Selasa, 20 Februari 2018

SENDIRI?



                                                  sendiri? Nanti juga Akan Sendiri


Senja dihari pertama perkuliahan semester dua ini Aku pulang dalam keadaan basah kuyup. Derasnya hujan harus kulalui karena hari memang sudah senja, perlahan Aku menyusuri setiap jalan dari kampus menuju kos-ku. Ya, Aku menikmati hujan karena hujan adalah bentuk Rahmat dari Sang Maha Cinta. Jadi tidak mungkinkan Aku membenci kehadirannya?
Hujan yang sore ini menemani perjalanan pulangku telah membawa pelajaran berharga bagiku. Karena keteledoranku sendiri, hari ini Aku lupa untuk membawa payung karena kufikir cuaca diluar Panas –namun ternyata Allah punya rencana lain. Ya, Allah sebaik-baiknya perencana.
Hujan sore itu membuat Aku merasa pilu dan sendu, biasanya jika Aku kedinginan atau kehujanan dari balik pintu akan ada yang menyambutku dengan membawakan handuk dan memberikan segelas susu coklat panas. Tidak sampai disitu, air hangat-pun sudah tersedia di kamar mandi untuk membersihkan badan sekaligus mengusir rasa dingin yang menyelimuti tubuhku.
Namun kini… tidak dalam kondisi yang sama,
Aku sudah tidak lagi berada dirumah dengan sosok malaikat tanpa sayap yang ku panggil Ibu akan menyambut hadirku dari balik pintu,
Tidak lagi dalam kondisi ada yang menunggu cemas kepulangankun dari balik jendela rumah itu,
‘Aku sudah harus belajar mandiri’
Aku menyiapkan segalanya sendiri saat ini,
Dan ternyata hujan senja itu tidak bisa berkompromi dengan tubuhku. Aku jatuh sakit, ya hanya kepalaku yang terasa pusing kembali memang. Sakitpun datangnya dari Allah. Dan lagi, hal ini menjadikan rasa rinduku pada Ibu semakin menggebu. Aku ingin berteriak ‘Ibu, tolong kesini! Aku sakit Bu! Aku butuh Ibu, Aku tidak mau disini sendiri’ –anak kos yang belum terbiasa jauh dari orangtua-. Namun tidak mungkin-kan jika Aku harus memberi tahu keadaanku saat ini dan membuat beliau khawatir. Oh tentuk tidak, Aku hanya ingin memberi Ibu kabar gembira dan tidak ingin membuatnya khawatir dan cemas akan kondisiku.

Ditengah rasa sakit yang tengah dirasa dan diselimuti rindu pada Ibu, Aku ingat jika kelak Aku juga akan sendiri. Benar-benar sendiri, tidak lagi di dunia namun dialam kubur, menunggu hari pembalasan. Didalam sana bukankah Aku akan sendiri? Tidak akan ada siapapun yang menemaniku, bahkan Ibu tidak akan membersamaiku nanti. Hanya ada amal ibadahlah yang akan menjadi teman sejatiku kelak. Lalu kenapa sekarang hanya dalam kondisi sakit seperti inipun Aku seakan tidak kuat sendiri?. 


Selasa, 17 Februari 2015

Contoh Puisi Alam



                                        Apakah ini tegurmu...?

Desir angin berkejaran
Burung bernyanyian merdu
Embun membasahi rerumputan
Itulah sekolahku
                        Kupandangi langit biru
                        Kutengok sang surya tersenyum bisu
                        Kulirik sekitarku penuh haru
                        Oh Tuhan apakah ini tegurmu?
Langit indah nan cerah
Tarian rumput yang merekah
Keadaan itu kini pecah
Keindahan itu kian musnah
              Oh Tuhan terimakasih tegurmu
              Oh Tuhan jangan biarkan ini
              Kuharap tegurmu cepat berlalu
              Berlalu bak api menjilati lilin