Laman

Kamis, 27 Februari 2014

contoh naskah drama bahasa Indonesia



Jangan Iri kepada Orang Lain
Dini                        : Anak gadis yang cantik, baik hati, pintar, kutu buku dan merupakan siswi baru    pindahan dari luar kota
Liliana                    : Anak gadis yang pintar, sombong, tidak ingin tersaingi orang lain, egois
Sisi                          : Teman Liliana yang baik namun sedikit lambat dalam hal berfikir
Kirana                                   : Teman Liliana yang judes, tidak pintar dalam pelajaran hanya saja suka berbicara seenaknya
Tisya                      : Teman Liliana yang sama-sama memiliki sifat buruk seperti Kirana
Rendy                   : Teman Dini yang pintar namun culun
Fajar                                      : Laki-laki yang baik, tampan, pintar dan merupakan ketua OSIS yang begitu disukai semua wanita di sekolahnya
Beni                       : Teman Fajar yang tidak tentu sifatnya kadang baik kadang jahat
Pak Ahmad         : Wali kelas yang arip dan bijaksana

Disuatu pagi di sekolah swasta di Kota Besar kedatangan seorang murid baru berparas cantik, dengan senyuman manisnya wanita itu melewati jalan menuju Ruang guru

Dini                        : (Mengetuk pintu sambil mengucap sallam) “Assalamualaikum”
Pak Ahmad         : “Waalaikumsallam, silahkan masuk” (Membalas sallam seraya menyuruh Dini duduk) “Silahkan duduk, Kamu murid pindahan itu kan ? Baiklah sekarang kamu ikut saya ke kelas !”
Dini                        : “Iya Pak, baiklah” (Menganggut tersenyum kemudian ikut Pak Ahmad ke kelas”

Suasana gaduh dan riuh dikelas begitu terasa karena memang kebiasaan anak-anak bila tidak ada guru pasti ribut, suasana hening seketika disaat Pak Ahmad datang dengan Dini

Pak Ahmad         : (Berjalan dengan gagah lalu mengetuk pintu dan langsung masuk
Murid-murid      : “Selamat pagi Pak” (Mengucap sallam serentak)
Pak Ahmad         : “Pagi, Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari luar kota, silahkan perkenalkan diri kamu” (Memberitahu murid-murdi dan langsung mempersilahkan Dini untuk memperkenalkan diri”
Dini                                        : (Dengan senyum simpul di wajahnya) “Perkenalkan, nama saya Dini saya pindahan dari luar Kota, saya harap teman-teman mau mengenal saya”
Pak Ahmad         : “Baiklah Din, sekarang kamu duduk dibangku itu ya, disebelah Rendy” (menunjuk kearah Rendy yang sedang asyik membaca buku”
Dini                        : (Mengangguk dan tersenyum) “Iya, terimakasih Pak”

Liliana, Sisi, Kirana, Tisya terkenal sebagai geng cewek yang suka menjaili orang dan senang melihat orang lain sedih

Liliana                    : “Heh heh siap-siap!” (memberi aba-aba kepada temannya Kirana”
Kirana                   : (Menghalangkan kakinya dan membuat Dini terjatuh)
Dini                        : (Terjatuh lalu mencoba bangun, sontak semua murid mentertawakannya)
Sisi                                          : “Kamu gapapa ?” (Mencoba membantu dengan nada kasihan namun Liliana melarangnya)
Dini                        : “Engga kok gapapa” (terbangun menuju ke kursinya)
Liliana                                    : “Heh Lo gausah bantuin dia Sisi gue gasuka sama dia, kita kan mau ngerjain dia Lo ko malah mau bantuin dia ?” (sambil marah-marah kepada Sisi)
Tisya                                      : “Iya Si dasar ya Lo”(masih marah kepada Sisi) “Eh Guys gimana kalo entar kita kerjain lagi dia” (Sambil tersenyum sinis)
Kirana                   : “Ide bagus” (sambil mengacungkan jempolnya

Sementara itu Dini duduk bersama Rendy

Dini                        : “Boleh saya duduk disini?”
Rendy                                   : “Ya Silahkan,” (memberikan tangannya lalu mengajak berkenalan) “Aku Rendy, Kamu Dini kan ?”
Dini                        : “Iya, Salam kenal ya” (berjabat tangan)

Saat pelajaran dimulai semua murid langsung bersiap menerima pelajaran, dan dalam pelajaran kali ini banyak diadakan pertanyaan. Siapa yang bisa mengerjakan akan mendapat nilai tambahan. Liliana yang biasanya selalu bisa menjawab hari itu kalah oleh Dini. Dini terus-terusan menjawab pertanyaan dan mendapatkan banyak nilai tambah. Semua murid bahkan Pak Ahmad kagum melihatnya

Liliana                                    : “Sial, anak baru itu saingat berat gue” (menggerutu dan manatap sinis Dini yang sedang mendapat pujian dari semua orang termasuk Sisi, sahabat Liliana sendiri)
Tisya                                      : “Engga ko, dia bukan saingan kamu, orang cantikan cantikan kamu pinteran juga kamu, tenar? Ya pasti tenaran kamu Li” (Memuji-muji sahabatnya)”
Liliana                    : “Ah tetap saja Aku benci sama dia” (Maish marah)
Kirana                   : “Udahlah biarin entar juga dia kalah sama kita” (meyakinkan Liliana)

Lonceng tanda istirahat berbunyi Pak Ahmad berkemas lalu meninggalkan kelas sontak suasana kembali riuh, ditengah keriuhan Dini dan Rendy berencana untuk pergi ke perpustakaan. Sisi yang mengagumi Dini ingin ikut namun Sisi malah dimarahi oleh teman-temannya

Dini & Rendy      : (berjalan menuju arah luar)
Sisi                          : (mengejar dan berteriak) “Tunggu Din aku ikut...”
Tisya                      : “Heh mau kemana Lo Si ?” (Dengan nada tinggi seakan marah)
Sisi                          : “Sisi mau ikut Dini” (dengan nada dan wajah yang memelas)
Kirana                   : “Oh jadi sekarang Lo lebih milih dia?” (dengan ketus)
Sisi                          : “Bukan gitu” (setengah ingin menangis)
Liliana                                    : “Yaudahlah terserah Lo aja mau ngapain juga ! kalo mau pergi sana !” (nada tinggi seperti mengusir)
Sisi                          : “Engga ko Sisi gajadi” (mengusap air matanya)

Di Perpustakaan tidak sengaja Dini bertemu Fajar sang Ketua OSIS. Tanpa disangka sang Ketua OSIS mengajak Dini untuk berkenalan. Beni yang merupakan sahabat Fajar langsung memberitahu Liliana yang memang menyukai Fajar sejak dulu

Dini                        : (Tersenyum melihat ke arah Fajar)
Fajar                                      : “Hey, anak baru ya ? Namanya siapa ? Kelas apa ? Boleh kenalan ?” (Dengan terus-menerus satu persatu pertanyaan dilontarkan Fajar)
Dini                        : “Nama Saya Dini kelas 8A kak” (tersenyum kemudian menundukkan kepalanya)
Fajar                      : “Oh, Aku Fajar kelas 9A” (sambil mengulurkan tangannya)
Dini                        : (Nampak malu karena diajak kenalan oleh ketua OSIS)
Fajar                                      : “Namanya bagus, seperti orangnya apalagi hatinya” (Puji Fajar kepada Dini) “Oh iya kenalkan ini Beni sahabat Aku”
Beni                       : “Aku Beni de, kamu Dini kan ?” (mengulurkan tangan)
Dini                        : “Iya kak,” (dengan senyuman khas nya)
Rendy                                   : (Memanggil Dini untuk segera datang ke arahnya) “Dini kesini Din, ini ada buku bagus !”
Dini                                        : “Iya sebentar Ren” (berlari kecil menuju ke arah Rendy sambil pamit kepada Fajar dan Beni) “Kak, Saya duluan ya” (tetap dengan senyumannya)
Beni                                       : “Jar, kamu itu kenapa sih? baru kali ini ada anak baru langsung diajak kenalan gitu ? ” (Keheranan)
Fajar                                      : “Emang kenapa salah Ben ?” (berbalik tanya) “Mungkin ini yang namanya cinta pandangan pertama” (Tersenyum-senyum sendiri tidak jelas)
Beni                       : (Langsung menghubungi Liliana)

Liliana yang tahu jika Fajar menyukai Dini langsung marah dan pergi menuju ke arah Dini yang kebetulan sudah kembali dari perpustakaan. Dengan gelas minuman ditangannya Ia tidak bisa mengendalikan emosinya

Liliana                    : (Sengaja menyebrot wajah Dini dengan minuman yang digenggamnya)
Dini                        : (Kaget)
Tisya & Kirana    : “Rasain Lo”
Rendy                   : “Kalian apa-apaan ? Kasihan Dini” (nada sedikit marah)
Liliana                                    : “Itu hukuman karena temen Lo udah ngerebut semuanya dari Gue !” (marah dan mendorong Dini sampe jatuh)
Dini                        : (Meringis kesakitan & mencoba bangkit)
Sisi                          : “Maafin temen-temen Sisi ya Din, jangan bilang ke Pak Ahmad” (nada ketakutan)
Kirana                   : “Udah deh Lo Si !” (ketus)

Hari demi hari terus berlalu Dini dan Fajar semakin akrab dan dikelas Dini pun semakin banyak meraih prestasi. Oleh karena itu banyak orang yang terus mengaguminya. Setiap hari dia rajin ke perpustakaan hingga tiba suatu hal yang malang menimpanya

Liliana                    : “Gimana udah aman ?” (bertanya sambil mengendap-endap masuk ke dalam kelas)
Kirana                   : “Udah aman ko” (menengok kanan kiri)
Tisya                      : “Oke gue jaga disini ya” (memberikan kode kepada temannya)
Sisi                          : “Mau apa sih kalian ih ? kasihan Dini” (berusaha mengahalangi)
Tisya                      : “Udah diem Lo awas ya kalo sampe ngasih tahu yang lain” (membekap mulut Sisi)
Kirana                   : (Mengambil uang di dalam tasnya sendiri dan memasukkannya kedalam tas Dini)
Tisya                      : “Gimana udah ?” (melepaskan bekapannya)
Liliana                    : “Yu ke kantin, udah beres misinya” (Tertawa-tawa gembira)

Saat bel masuk berbunyi siswa-siswi kembali ke kelas masing-masing. Liliana dan sahabat-sabahatnya memberikan senyuman sinis ke arah Dini

Dini                        : “Ren, mereka kenapa lagi ya ? Salah apalagi saya ?” (tanya Dini kepada Rendy)
Rendy                   : “Udahlah biarin aja jangan difikirin” (mencoba menenangkan)

Hari itu kebetulan ada beberapa lembar kertas yang harus di fotocopy dan tentunya harus menggunakan uang kas

Pak Ahmad         : “Coba Kirana mana uang buat fotocopy nya ?” (bertanya ke arah Kirana sambil berjalan kearah mejanya)
Kirana                                   : “Sebentar Pak” (membuka tas dan terkaget) “Pak, uangnya hilang padahal tadi sebelum istirahat ada ko” (berakting seolah-olah benar hilang)
Liliana                                    : “Wah Pak ini pasti ada yang mencuri Pak, Anak baru kesayangan Bapak mungkin yang mengambil” (Tuding Lilianan kepada Dini sambil menunjuk)
Sisi                          : “Itu Pak,.....”
Tisya                      : (Membekap mulut Sisi) “Diem...!”
Pak Ahmad         : “Itu apa Si ?” (menuju ke arah Sisi)
Tisya                                      : “Ehmm engga Pak itu tadi ada cicak di dinding hehe,” (meyakinkan Pak Ahmad) “Geledah aja Pak semua tas milik murid disini” (mengajukan usul)
Pak Ahmad         : “Baik keataskan tas kalian semua” (mengecek satu persatu dan tiba-tiba uang tersebut ada di tas Dini, Pak Ahmad seakan tak percaya) “Dini, jadi benar kamu ?” (marah)
Dini                        : “Tidak Pak, bukan saya Pak,” (meyakinkan)
Rendy                   : “Iya Pak tidak mungkin Dini mencuri” (bantu Rendy meyakinkan Pak Ahmad)
Semua murid     : “Maling mana ada yang ngaku” (sambil meneriaki Dini)
Pak Ahmad         : “Sekarang kamu pergi ke lapangan diam disitu sampai jam pulang sekolah ! Mengerti ?!” (Tegas Pak Ahmad seraya mengusir Dini dari ruangan kelas)
Dini                                        : “Ya Allah kenapa mereka tega memfitnah saya ?” (menangis sambil berjalan ke arah lapangan)

Fajar yang ketika itu tidak sengaja melihat Dini dilapangan langsung tidak percaya dan merasa bahwa selama ini dia telah menyukai orang yang salah. Karena memang seisi sekolah langsung tahu jika Dini dituduh mengambil uang di kelasnya dan itu terbukti

Fajar                      : “Aku ganyangka Din, ternyata kamu pencuri” (menggeleng-geleng kepala)
Dini                        : “Engga kak, Kakak harus percaya sama Dini” (memelas)
Beni                       : “Tapi buktinya ada ditas kamu kan ?” (tegas Beni)
Dini                        : “Iya tapi bukan Dini yang ngambil Kak” (terus meyakinkan)
Fajar                      : “Udahlah aku udah gapercaya lagi sama kamu” (pergi meninggalkan Dini)
Dini                        : (Tertunduk dan menangis)

Bel pulang telah berbunyi semua orang di sekolah tatapannya tertuju pada Dini yang sedang berdiri di lapangan. Karena hukumannya selesai Dini kembali ke kelas untuk mengambil tasnya, disepanjang jalan Ia dilempari gulungan kertas dan diteriakki maling

Dini                        : (berlari terus menuju kelas dan masih menangis)
Rendy                                   : “Udah Din sabar nanti juga ketahuan siapa yang maling aslinya” (mencoba menenangkan sahabatnya)
Dini                        : (menganggukan kepala dan langsung pulang)

Keesokan harinya Ia merasa takut untuk pergi kesekolah namun Ia berfikir kenapa Ia harus takut kalau dia tidak salah. Tanpa disadari oleh semua murid, ternyata ruangan kelas disemua kelas disekolah itu dipasangi kamera cctv. Pak Ahmad yang baru tersadar akan hal itu mencoba melihat peristiwa apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata dugaanya salah besar

Pak Ahmad         : “Anak-anak inilah rekaman cctv hari kemarin” (sambil memutarnya)
Liliana                    : “Gawat guys” (memberi kode teman-temannya)
Pak Ahmad         : (kaget) “Ternyata kalian Liliana, Kirana, Tisya, Sisi ?” (marah)
Kirana                   : “Maafkan kami Pak” (meminta maaf dengan memohon)
Pak Ahmad         : “Sekarang pergi kelapangan bersihkan halaman, toilet, dan semua kelas di sekolah ini !” (suruh Pak Ahmad dengan nada tinggi)
Liliana&geng      : “Baik Pak” (pergi mengambil peralatan untuk bersih-bersih)
Rendy                   : “Tuhkan Din ketahuan siapa yang salah” (tersenyum senang)
Dini                        : “Iya Alhamdulillah” (tersenyum)
Semua anak mentertawakan Liliana dan kawan-kawannya. Fajar dan Beni yang telah beranggapan salah terhadap Dini langsung meminta maaf. Bahkan Pak Ahmad serta Liliana dan kawan-kawannya pun meminta maaf kepada Dini

Pak Ahmad         : “Maafkan Bapak ya Din sudah menuduh kamu” (mengulurkan tangan)
Dini                        : “Iya Pak tidak apa-apa” (Tersenyum dan mengangguk)
Beni                 : “Maafin aku juga ya De, udah nuduh kamu” (mengulurkan tangan)
Dini                  : “Iya kak” (kembali tersenyum)
Fajar                            : “Ehmmm Maafin aku Din, maafin kalo kemarin aku udah bikin kamu nangis, Aku salah ya? Maafin ya harusnya aku kan lebih percaya sama kamu” (seperti biasa bertanya terus-menerus)
Dini                  : “Iya kak, Dini udah maafin Kakak ko” (Tersenyum malu dan menunduk)
Liliana                         : “Din, maafin Aku sama temen-temen ya udah fitnah kamu, udah jahat sama kamu” (mengulurkan tangan)
Tisya                : “Iya, aku juga Din aku ngaku salah” (menunduk)
Kirana              : “Iya Din, maafin ya” (menunduk)
Sisi                               : “Sisi kan baik ya Din sama Dini tapi Sisi juga mau minta maaf hehe” (tersenyum manja)
Dini                              : “Iya, kalian semua sudah Saya maafkan ko sebelum kalian minta maafpun, asal kalian janji gabakal ngulangin lagi ya” (menjabat tangan Liliana)
Liliana                         : (memeluk Dini) “Makasih Din, dulu aku begitu karena aku iri kamu itu cantik, baik, pinter, terus disukai sama Kak Fajar lagi”
Dini                  : “Oh jadi itu alesannya?” (kaget)
Liliana                         : “Iya Din, maaf ya tapi mulai sekarang aku sama temen-temen janji ko gabakal iri lagi karena memang kehidupan orang itu berbeda-beda.” (melepaskan pelukannya)
Fajar                            : “Nah bener itu Li, jadi sekarang kamu setuju dong kalo Aku jadian sama Dini?” (Tanyanya kegirangan)
Liliana             : “Boleh Kak, setuju banget” (bersemangat)
Pak Ahmad      : “Eh eh eh ini malah ngomongin pacaran nanti dulu masalah pacaran, sekarang masuk kelas belajarrrrr...!!!!!” (seru Pak Ahmad sambil bergurau)

Semua murid kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti KBM. Kini, Dini & Rendy bersahabat dengan Liliana, Kirana, Tisya, dan Sisi. Mereka hidup rukun dan akur




Tidak ada komentar:

Posting Komentar